Bro & Sis,
Kemaren ngikutin siaran live sidang MK di MetroTV... Wah, ternyata begitu njlimetnya yah, skenario dari bos Anggodo...
04 November 2009
11 Agustus 2009
Harga Selembar Ijazah
Bro & Sis,
Tempo hari ada seorang sohib yang senasih dengan ane, yakni hanya seorang lulusan SMA. Dia mengabarkan ada sebuah lowongan tenaga lepas sebagai seorang surveyor pada sebuah proyek survey koperasi. Tentu saja dalam sikon seperti sekarang ini, tawaran darinya sangat menyejukkan terdengar. Langsung ane sanggupi untuk menjadi tenaga survey.
Esoknya sohib ane tadi nge-sms, bahwa pelatihan untuk para surveyor akan dilaksanakan dua hari lagi di Semarang. Ane disyaratkan harus membawa copy ijazah, copy ktp, pasfoto dan kalkulator! Dan ketika hitungan jam mendekati hari H yang dikabarkan, beliau ngesms lagi. Isinya: kami berdua tidak jadi ke semarang, alias tidak diterima sebagai seorang surveyor, karena ijazah kami cuma SMA, sementara yang dibutuhkan adalah SE, sarjana ekonomi.
Kecewa rasanya hati ini, tentu saja. Namun ada hikmah di balik kisah ini. Yakni bahwa ternyata dunia pendidikan kita sungguh sangat mengenaskan. Betapa tidak, hanya untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai seorang surveyor, yang disyaratkan musti sarjana! Padahal -menurut hemat ane- pekerjaannya sangat mudah: menanyai obyek survey (yang biasanya sudah ada listnya), mengisikannya ke dalam form dan minta tanda tangan atau stempel darinya. Sangat sangat sederhana, yang bahkan anak ane yang masih SMP saja pasti bisa!
Jadi, antum semua para sarjana, maukah jika selama berjibaku di bangku kuliah dengan segala kemahalan ongkos material dan moral, hanya untuk melakukan pekerjaan anak SMP?
Tempo hari ada seorang sohib yang senasih dengan ane, yakni hanya seorang lulusan SMA. Dia mengabarkan ada sebuah lowongan tenaga lepas sebagai seorang surveyor pada sebuah proyek survey koperasi. Tentu saja dalam sikon seperti sekarang ini, tawaran darinya sangat menyejukkan terdengar. Langsung ane sanggupi untuk menjadi tenaga survey.
Esoknya sohib ane tadi nge-sms, bahwa pelatihan untuk para surveyor akan dilaksanakan dua hari lagi di Semarang. Ane disyaratkan harus membawa copy ijazah, copy ktp, pasfoto dan kalkulator! Dan ketika hitungan jam mendekati hari H yang dikabarkan, beliau ngesms lagi. Isinya: kami berdua tidak jadi ke semarang, alias tidak diterima sebagai seorang surveyor, karena ijazah kami cuma SMA, sementara yang dibutuhkan adalah SE, sarjana ekonomi.
Kecewa rasanya hati ini, tentu saja. Namun ada hikmah di balik kisah ini. Yakni bahwa ternyata dunia pendidikan kita sungguh sangat mengenaskan. Betapa tidak, hanya untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai seorang surveyor, yang disyaratkan musti sarjana! Padahal -menurut hemat ane- pekerjaannya sangat mudah: menanyai obyek survey (yang biasanya sudah ada listnya), mengisikannya ke dalam form dan minta tanda tangan atau stempel darinya. Sangat sangat sederhana, yang bahkan anak ane yang masih SMP saja pasti bisa!
Jadi, antum semua para sarjana, maukah jika selama berjibaku di bangku kuliah dengan segala kemahalan ongkos material dan moral, hanya untuk melakukan pekerjaan anak SMP?
30 Juli 2009
Sehabis Kesulitan, Pasti Ada Kemudahan!
Wah... lama nih gak posting. Maaf nih, bro & sis, koneksi internetku di rumah dah ane PHK, habis... diri ini baru kena semacam PHK juga.... hehe.... Nah, dalam kondisi 'sulit' ini, maka kebutuhan internet kudu ngalah. Iya gak? Kecuali ada gratisan (tapi mengharap pameran speedy di mall sekarang ini seperti mengharap hujan di musim kemarau).
Saat ini, ane lagi dilanda resah dan gelisah (ciee...). Sumber ma'isyah (pendapatan) terpotong. Ceritanya sih... order cetakan yang lumayan besar selama ini, kini gak ngorder lagi ke ane. Dipindah ke percetakan lain yang lebih murah (padahal speknya beda lho, dengan produk ane. Jangan digebyah-uyah dong! Eh... maaf, gak marahi antum kok... kesel aja ama situasi ini). Ya sudahlah, belum rejekinya. Ikhlakan, adalah langkah terbaik (gitu nasihat temen).
Oke, mari kita lihat dengan pikiran adem dan hati ikhlas. (menurut teorinya Erbe Sentanu, kita musti senantiasa berada pada 'zona ikhlas' tiap hari, agar apa yang kita inginkan terwujud). Ane coba apresiasi ide dari istri: mendirikan Sanggar Lukis yang Islami! Kata istriku, saat ini di Pekalongan belum ada sanggar lukis yang Islami. Semua yang ada diasuh oleh para seniman pada umumnya. Tampilan sangar, rambut gondrong, bertato, kadang berpakaian sak enak udele dewe (tidak sopan, padahal di forum 'resmi'). Yah, pokoknya, imej yang gitu-gitu deh. Nah, peluang kan, mendirikan sanggar yang islami? Tampilan parlente -misalnya- tidak ngrokok, tutur kata yang halus, mendidik (aspek suri tauladan), wis pokoke seidealnya seniman Islami.
Boleh juga tuh ide istri. Jadi, sanggarku nanti bisa 'keluar dari kerumunan' sanggar-sanggar yang sangar.... doain yah....
Saat ini, ane lagi dilanda resah dan gelisah (ciee...). Sumber ma'isyah (pendapatan) terpotong. Ceritanya sih... order cetakan yang lumayan besar selama ini, kini gak ngorder lagi ke ane. Dipindah ke percetakan lain yang lebih murah (padahal speknya beda lho, dengan produk ane. Jangan digebyah-uyah dong! Eh... maaf, gak marahi antum kok... kesel aja ama situasi ini). Ya sudahlah, belum rejekinya. Ikhlakan, adalah langkah terbaik (gitu nasihat temen).
Oke, mari kita lihat dengan pikiran adem dan hati ikhlas. (menurut teorinya Erbe Sentanu, kita musti senantiasa berada pada 'zona ikhlas' tiap hari, agar apa yang kita inginkan terwujud). Ane coba apresiasi ide dari istri: mendirikan Sanggar Lukis yang Islami! Kata istriku, saat ini di Pekalongan belum ada sanggar lukis yang Islami. Semua yang ada diasuh oleh para seniman pada umumnya. Tampilan sangar, rambut gondrong, bertato, kadang berpakaian sak enak udele dewe (tidak sopan, padahal di forum 'resmi'). Yah, pokoknya, imej yang gitu-gitu deh. Nah, peluang kan, mendirikan sanggar yang islami? Tampilan parlente -misalnya- tidak ngrokok, tutur kata yang halus, mendidik (aspek suri tauladan), wis pokoke seidealnya seniman Islami.
Boleh juga tuh ide istri. Jadi, sanggarku nanti bisa 'keluar dari kerumunan' sanggar-sanggar yang sangar.... doain yah....
Label:
Aktivitas,
Hikmah,
Ide,
Pengalaman Orang Lain,
Suasana Hati
| Reaksi: |
13 Maret 2009
Antara Pelecehan Seksual dan Poligami
Tempo hari nggak sengaja sempat ngintip acara infotainment yang menyorot 'perang' antara Kiki Fatmala dan Saipul Jamil. Masing-masing pihak bersikeras merasa dirinya paling benar. Sebelumnya diberitakan lakon Syeh Puji sang Milyarder dari kabupaten Semarang, rupanya kisah perkawinannya yang menggegerkan itu masih akan terus menuai kontroversi.
Tentang Perang Kiki-Saipul, menurut ane sih naif banget. Gimana tidak, lha wong sikonnya aja mendukung, dan kedua pihak adalah artis! Coba bro & sis lihat, (kata entertainment sih) dalam suasana sehabis shooting film (yg menurut ane adegane vulgar banget, gak pantas jadi tontonan), si Saipul nambah bonus nyentuh bokongnya Kiki, trus Kikinya naik pitam, anggap Saipul kurang ajar! Weleh... weleh... lha wong habis adegan begituan di depan kamera gak apa2 kok disentuh2 protes. Harusnya kan malah bersyukur di'bonus'i Saipul. Kalo gak mau disentuh ya jangan maen film yang gituan tho nduk... nduk...! Jadi menurutku 'insiden' itu 'wajar' terjadi.
Lha kalau tentang si Bos dari Kab. Semarang ini laen lagi critanya. Dia nikahi Ulfa secara sah, bahkan sudah memplotnya sebagai Direktur salah satu perusahaannya. Artinya, secara agama dia tidak salah, lha wong Ulfa sudah baligh kok... lagian ulfanya mau, gak nangis kayak Siti Nurbaya yg dipaksa kawin ama Datuk Maringgih. Dari sisi penghidupan, Syeh nyentrik ini juga sangat-sangat bertanggungjawab, dia sudah menyiapkan sumber penghasilan untuk Ulfa sendiri. Heran juga ane, merka itu alih-alih menegakkan UU Perlindungan Anak dan UU Ketenagakerjaan, jadinya justru cari muka doang di TV! Lha mbok, urusi tuh anak-anak korban penculikan, korban jajanan sekolah yang tidak menyehatkan, de el el. Urusi juga pengangguran yang makin lama makin tambah banyak... Gimana solusinya?
Jadi menurutku, sudahlah rumah tangga mereka gak usah diutak-utik. Itung-itung mengentaskan jumlah perawan di negeri ini (yg katanya rasio laki:perempuan gak imbang) plus pengentasan pengangguran. Yo pora?
Tentang Perang Kiki-Saipul, menurut ane sih naif banget. Gimana tidak, lha wong sikonnya aja mendukung, dan kedua pihak adalah artis! Coba bro & sis lihat, (kata entertainment sih) dalam suasana sehabis shooting film (yg menurut ane adegane vulgar banget, gak pantas jadi tontonan), si Saipul nambah bonus nyentuh bokongnya Kiki, trus Kikinya naik pitam, anggap Saipul kurang ajar! Weleh... weleh... lha wong habis adegan begituan di depan kamera gak apa2 kok disentuh2 protes. Harusnya kan malah bersyukur di'bonus'i Saipul. Kalo gak mau disentuh ya jangan maen film yang gituan tho nduk... nduk...! Jadi menurutku 'insiden' itu 'wajar' terjadi.
Lha kalau tentang si Bos dari Kab. Semarang ini laen lagi critanya. Dia nikahi Ulfa secara sah, bahkan sudah memplotnya sebagai Direktur salah satu perusahaannya. Artinya, secara agama dia tidak salah, lha wong Ulfa sudah baligh kok... lagian ulfanya mau, gak nangis kayak Siti Nurbaya yg dipaksa kawin ama Datuk Maringgih. Dari sisi penghidupan, Syeh nyentrik ini juga sangat-sangat bertanggungjawab, dia sudah menyiapkan sumber penghasilan untuk Ulfa sendiri. Heran juga ane, merka itu alih-alih menegakkan UU Perlindungan Anak dan UU Ketenagakerjaan, jadinya justru cari muka doang di TV! Lha mbok, urusi tuh anak-anak korban penculikan, korban jajanan sekolah yang tidak menyehatkan, de el el. Urusi juga pengangguran yang makin lama makin tambah banyak... Gimana solusinya?
Jadi menurutku, sudahlah rumah tangga mereka gak usah diutak-utik. Itung-itung mengentaskan jumlah perawan di negeri ini (yg katanya rasio laki:perempuan gak imbang) plus pengentasan pengangguran. Yo pora?
28 Februari 2009
Kader PKS, Belajarlah dari Mas Dikin
Bro & Sis, ada secuil kisah untuk antum nih....
Mas Dikin, demikian pria paruh baya ini biasa dipanggil. Pria sederhana yang sehari-harinya bekerja serabutan dan sebagian masyarakat menyebutnya dengan 'mbah' karena kepiawaiannya dalam pengobatan alternatif ini adalah tipe orang jalanan, mantan preman kampung. Sampai tulisan ini diposting, dia belum ikut tarbiyah (itu lho, kajian keislaman pekanan khas PKS si nomer 8 yang ada di pojok kanan atas, hehe...).
Malam itu, usai rapat evaluasi kinerja para caleg dan kader, ane bergegas mengembalikan gelas bekas minum kami. Seperti biasa jika ada rapat, warung di sekitar DPD pasti sedikit kecepretan rezeki. Kali ini giliran Warung Bakso Bang Topo yang letaknya 2 blok sebelah utara DPD.
"Mas... mas..." terdengar suara dari dalam warung memanggilku. Ane menoleh ke asal suara.
"Eh, mas Dikin... apa kabar?" sapaku kepada pria itu. Rupanya Mas Dikin sedang mbakso.
Selanjutnya usai basa-basi, dia mulai curhat. Tak tanggung-tanggung, hampir satu jam curhatnya. Padahal ane sudah ngantuk, seharian beraktifitas dan rapat-rapat yang melelahkan, bahkan sore tadi belum sempat mandi (sory nih, silakan tutup hidung... gak pa pa).
Dia mengawali cerita tentang keinginannya agar PKS mendapatkan 'kursi' di DPRD Kota Pekalongan. Paling tidak, PKS ada suaranya lah. Tidak malu-maluin. Wong secara nasional kan sudah termasuk 'partai besar', jadi di daerah juga kudu nyesuaikan, gitu dalam benak mas Dikin. Pemilu kemaren dapat satu kursi sih... Nah, tahun ini penginnya dapat satu juga (mm.... satu fraksi maksudnya, alias minimal 4 kursi). Obsesi itulah yang membuat mas Dikin tambah busy, di luar kesibukan hariannya.
Sering pulang larut malam, guna menyambangi teman-teman 'masa lalu'nya, orang-orang jalanan dan para pendukung partai "X" (sebelum ngefans sama PKS, pemilu kemaren mas Dikin adalah pecut atau tim sukses dari sebuah partai besar). Untuk apalagi kalau bukan minta dukungan, agar menjatuhkan pilihannya pada PKS. Hampir bisa dipastikan bagaimana reaksi mereka. Hampir semua orang yang diajak mas Dikin pasti akan menanyakan 'uang transport', 'amplopan' atau 'sarimi'nya ada nggak, dan sejenisnya. Itulah potret masyarakat kita (eh, di daerah antum begitu juga nggak?). Bagaimana jawaban mas Dikin?
Dengan sabar dan sambil guyonan, mas Dikin menegaskan bahwa PKS memang tidak punya uang. Jadi partai ini tidak bagi-bagi uang, karena pengin menyejahterakan rakyat, begitu jelasnya. Lho kak? Lha iya, kalau partai atau caleg yang suka bagi-bagi uang, pasti nantinya akan minta uang pada rakyat. Apa ada orang jualan, sudah habis modal banyak, mau rugi begitu saja? Pasti akan mikirkan balik modalnya kan? Syukur-syukur untung. Nah, sama dengan para caleg atau partai yang royal bagi duit itu. Kelihatannya sih sekarang mikirin rakyat, lha nanti kalau terpilih, mikirinya nyari duit banyak-banyak buat nutup utangnya!
Banyak diantara mereka yang mencibir, namun masih ada juga yang simpati. Ada juga yang oportunis, begitu malemnya diomongin, besoknya sudah nyodorin 70 nama 'pendukung' --tahu sendiri lah, ujung-ujungnya duit (yang bener aja, saya berhari-hari nguber sana-sini cuma dapet 30-an orang, eh, ini semalem bisa dua kali lipat, pikir mas Dikin). Mas Dikin langsung men-skak match orang itu. "Aku tidak butuh puluhan nama! Yang aku butuhkan cuma komitmen sampeyan, istri, dan anak atau kerabat dekat sampeyan. Cukup tiga atau lima orang saja!" tegasnya. Itu pun belum karuan toh?
Eh, ngomong-ngomong, biaya operasional mas Dikin gerilya begitu dari mana? Minta caleg atau DPD? Subhanallah... ternyata dari kocek sendiri! Mas Dikin sangat tahu diri, dia pantang nyadong ke para caleg apatah lagi DPD.
"Lha, untuk tinggalan anak istri gimana mas?" pancing ane
"Lillaahi ta'aala," jawabnya....
Mas Dikin, demikian pria paruh baya ini biasa dipanggil. Pria sederhana yang sehari-harinya bekerja serabutan dan sebagian masyarakat menyebutnya dengan 'mbah' karena kepiawaiannya dalam pengobatan alternatif ini adalah tipe orang jalanan, mantan preman kampung. Sampai tulisan ini diposting, dia belum ikut tarbiyah (itu lho, kajian keislaman pekanan khas PKS si nomer 8 yang ada di pojok kanan atas, hehe...).
Malam itu, usai rapat evaluasi kinerja para caleg dan kader, ane bergegas mengembalikan gelas bekas minum kami. Seperti biasa jika ada rapat, warung di sekitar DPD pasti sedikit kecepretan rezeki. Kali ini giliran Warung Bakso Bang Topo yang letaknya 2 blok sebelah utara DPD.
"Mas... mas..." terdengar suara dari dalam warung memanggilku. Ane menoleh ke asal suara.
"Eh, mas Dikin... apa kabar?" sapaku kepada pria itu. Rupanya Mas Dikin sedang mbakso.
Selanjutnya usai basa-basi, dia mulai curhat. Tak tanggung-tanggung, hampir satu jam curhatnya. Padahal ane sudah ngantuk, seharian beraktifitas dan rapat-rapat yang melelahkan, bahkan sore tadi belum sempat mandi (sory nih, silakan tutup hidung... gak pa pa).
Dia mengawali cerita tentang keinginannya agar PKS mendapatkan 'kursi' di DPRD Kota Pekalongan. Paling tidak, PKS ada suaranya lah. Tidak malu-maluin. Wong secara nasional kan sudah termasuk 'partai besar', jadi di daerah juga kudu nyesuaikan, gitu dalam benak mas Dikin. Pemilu kemaren dapat satu kursi sih... Nah, tahun ini penginnya dapat satu juga (mm.... satu fraksi maksudnya, alias minimal 4 kursi). Obsesi itulah yang membuat mas Dikin tambah busy, di luar kesibukan hariannya.
Sering pulang larut malam, guna menyambangi teman-teman 'masa lalu'nya, orang-orang jalanan dan para pendukung partai "X" (sebelum ngefans sama PKS, pemilu kemaren mas Dikin adalah pecut atau tim sukses dari sebuah partai besar). Untuk apalagi kalau bukan minta dukungan, agar menjatuhkan pilihannya pada PKS. Hampir bisa dipastikan bagaimana reaksi mereka. Hampir semua orang yang diajak mas Dikin pasti akan menanyakan 'uang transport', 'amplopan' atau 'sarimi'nya ada nggak, dan sejenisnya. Itulah potret masyarakat kita (eh, di daerah antum begitu juga nggak?). Bagaimana jawaban mas Dikin?
Dengan sabar dan sambil guyonan, mas Dikin menegaskan bahwa PKS memang tidak punya uang. Jadi partai ini tidak bagi-bagi uang, karena pengin menyejahterakan rakyat, begitu jelasnya. Lho kak? Lha iya, kalau partai atau caleg yang suka bagi-bagi uang, pasti nantinya akan minta uang pada rakyat. Apa ada orang jualan, sudah habis modal banyak, mau rugi begitu saja? Pasti akan mikirkan balik modalnya kan? Syukur-syukur untung. Nah, sama dengan para caleg atau partai yang royal bagi duit itu. Kelihatannya sih sekarang mikirin rakyat, lha nanti kalau terpilih, mikirinya nyari duit banyak-banyak buat nutup utangnya!
Banyak diantara mereka yang mencibir, namun masih ada juga yang simpati. Ada juga yang oportunis, begitu malemnya diomongin, besoknya sudah nyodorin 70 nama 'pendukung' --tahu sendiri lah, ujung-ujungnya duit (yang bener aja, saya berhari-hari nguber sana-sini cuma dapet 30-an orang, eh, ini semalem bisa dua kali lipat, pikir mas Dikin). Mas Dikin langsung men-skak match orang itu. "Aku tidak butuh puluhan nama! Yang aku butuhkan cuma komitmen sampeyan, istri, dan anak atau kerabat dekat sampeyan. Cukup tiga atau lima orang saja!" tegasnya. Itu pun belum karuan toh?
Eh, ngomong-ngomong, biaya operasional mas Dikin gerilya begitu dari mana? Minta caleg atau DPD? Subhanallah... ternyata dari kocek sendiri! Mas Dikin sangat tahu diri, dia pantang nyadong ke para caleg apatah lagi DPD.
"Lha, untuk tinggalan anak istri gimana mas?" pancing ane
"Lillaahi ta'aala," jawabnya....
Langgan:
Entri (Atom)
