13 Maret 2009
Antara Pelecehan Seksual dan Poligami
[to be continued... jik mikir...]
28 Februari 2009
Kader PKS, Belajarlah dari Mas Dikin
Mas Dikin, demikian pria paruh baya ini biasa dipanggil. Pria sederhana yang sehari-harinya bekerja serabutan dan sebagian masyarakat menyebutnya dengan 'mbah' karena kepiawaiannya dalam pengobatan alternatif ini adalah tipe orang jalanan, mantan preman kampung. Sampai tulisan ini diposting, dia belum ikut tarbiyah (itu lho, kajian keislaman pekanan khas PKS si nomer 8 yang ada di pojok kanan atas, hehe...).
Malam itu, usai rapat evaluasi kinerja para caleg dan kader, ane bergegas mengembalikan gelas bekas minum kami. Seperti biasa jika ada rapat, warung di sekitar DPD pasti sedikit kecepretan rezeki. Kali ini giliran Warung Bakso Bang Topo yang letaknya 2 blok sebelah utara DPD.
"Mas... mas..." terdengar suara dari dalam warung memanggilku. Ane menoleh ke asal suara.
"Eh, mas Dikin... apa kabar?" sapaku kepada pria itu. Rupanya Mas Dikin sedang mbakso.
Selanjutnya usai basa-basi, dia mulai curhat. Tak tanggung-tanggung, hampir satu jam curhatnya. Padahal ane sudah ngantuk, seharian beraktifitas dan rapat-rapat yang melelahkan, bahkan sore tadi belum sempat mandi (sory nih, silakan tutup hidung... gak pa pa).
Dia mengawali cerita tentang keinginannya agar PKS mendapatkan 'kursi' di DPRD Kota Pekalongan. Paling tidak, PKS ada suaranya lah. Tidak malu-maluin. Wong secara nasional kan sudah termasuk 'partai besar', jadi di daerah juga kudu nyesuaikan, gitu dalam benak mas Dikin. Pemilu kemaren dapat satu kursi sih... Nah, tahun ini penginnya dapat satu juga (mm.... satu fraksi maksudnya, alias minimal 4 kursi). Obsesi itulah yang membuat mas Dikin tambah busy, di luar kesibukan hariannya.
Sering pulang larut malam, guna menyambangi teman-teman 'masa lalu'nya, orang-orang jalanan dan para pendukung partai "X" (sebelum ngefans sama PKS, pemilu kemaren mas Dikin adalah pecut atau tim sukses dari sebuah partai besar). Untuk apalagi kalau bukan minta dukungan, agar menjatuhkan pilihannya pada PKS. Hampir bisa dipastikan bagaimana reaksi mereka. Hampir semua orang yang diajak mas Dikin pasti akan menanyakan 'uang transport', 'amplopan' atau 'sarimi'nya ada nggak, dan sejenisnya. Itulah potret masyarakat kita (eh, di daerah antum begitu juga nggak?). Bagaimana jawaban mas Dikin?
Dengan sabar dan sambil guyonan, mas Dikin menegaskan bahwa PKS memang tidak punya uang. Jadi partai ini tidak bagi-bagi uang, karena pengin menyejahterakan rakyat, begitu jelasnya. Lho kak? Lha iya, kalau partai atau caleg yang suka bagi-bagi uang, pasti nantinya akan minta uang pada rakyat. Apa ada orang jualan, sudah habis modal banyak, mau rugi begitu saja? Pasti akan mikirkan balik modalnya kan? Syukur-syukur untung. Nah, sama dengan para caleg atau partai yang royal bagi duit itu. Kelihatannya sih sekarang mikirin rakyat, lha nanti kalau terpilih, mikirinya nyari duit banyak-banyak buat nutup utangnya!
Banyak diantara mereka yang mencibir, namun masih ada juga yang simpati. Ada juga yang oportunis, begitu malemnya diomongin, besoknya sudah nyodorin 70 nama 'pendukung' --tahu sendiri lah, ujung-ujungnya duit (yang bener aja, saya berhari-hari nguber sana-sini cuma dapet 30-an orang, eh, ini semalem bisa dua kali lipat, pikir mas Dikin). Mas Dikin langsung men-skak match orang itu. "Aku tidak butuh puluhan nama! Yang aku butuhkan cuma komitmen sampeyan, istri, dan anak atau kerabat dekat sampeyan. Cukup tiga atau lima orang saja!" tegasnya. Itu pun belum karuan toh?
Eh, ngomong-ngomong, biaya operasional mas Dikin gerilya begitu dari mana? Minta caleg atau DPD? Subhanallah... ternyata dari kocek sendiri! Mas Dikin sangat tahu diri, dia pantang nyadong ke para caleg apatah lagi DPD.
"Lha, untuk tinggalan anak istri gimana mas?" pancing ane
"Lillaahi ta'aala," jawabnya....
11 Februari 2009
Menuju Swasembada Sekolah
Jika pak Anton Apriantono, menteri pertanian kita, bisa mewujudkan negeri tercinta ini berswasembada beras --dalam arti sesungguhnya-- maka mengapa kita tidak bisa mewujudkan swasembada sekolah? Yang ane maksud dengan swasembada sekolah adalah mendorong lembaga-lembaga pendidikan baik negeri apatah lagi swasta --utamanya tingkat dasar-- untuk bisa mandiri, kreatif dan inovatif serta tidak njagakke bantuan/dana dari pemerintah. Singkat kata, mewujudkan sekolah yang tahan banting di segala kondisi.Untuk itu diperlukan tangan-tangan dingin yang kreatif. Tidak hanya itu, sang arsitek musti memiliki "nyali" untuk mendobrak. Seperti halnya pada game "9 titik" di bawah ini.
Jika diibaratkan bahwa untuk mewujudkan impian di atas adalah seperti 'tantangan' dalam game ini (yaitu Anda diminta menghubungkan kesembilan titik tersebut hanya dengan menggunakan 4 garis lurus yang nyambung terus), maka untuk menyelesaikannya Anda harus berani "keluar dari pakem". Karena jika tidak, Anda hanya akan ublak-ublek pada 9 titik itu tok. Tak akan pernah menyelesaikan masalah!
Bagaimana menyelesaikannya? Lihat ilustrasi di samping. Bahkan bagi orang-orang yang lebih kreatif, tantangan ini bisa diselesaikan dengan lebih sedikit garis (berarti lebih efektif dan efisien). Tiga garis misalnya, atau bahkan cukup sebuah garis saja!Kembali ke pokok gagasan. Menurut ane, langkah terpentingnya adalah "jangan terpaku pada kurikulum" dari diknas. Maaf saja, konon menurut para ahli pendidikan, kurikulum pendidikan kita ini masih amburadul dan terlalu membebani siswa. Karenanya, jika kita tidak kuasa menggantinya dengan yang lebih bagus, langkah terbaik adalah 'mensiasatinya'. Dalam permisalan tadi, kurikulum kita itu ibarat 9 titik. Makanya kita musti berani melihat "bidang di luar 9 titik" untuk dapat mengurai benang kusutnya.
Langkah berikutnya adalah:
(1) Terapkan Skala Prioritas, yaitu pilah mapel menurut 'tingkat urgensinya'. Contoh: mapel yang 'tidak penting' (misalnya PKPN, IPS dan sejenisnya. Maaf lho bagi guru bidang studi ini) tidak usah diplot dalam distribusi jadual KBM, tetapi cukup diberikan berupa resume untuk siswa baca atau hafalkan sendiri di rumah. Nah, kapling waktunya kita gunakan untuk aktivitas lain yang lebih 'produktif'.
(2) Senantiasa wujudkan suasana KBM yang menyenangkan. Mengapa kita harus terpaku pada ruang kelas dan papan tulis? Sering-seringlah adakan KBM interaktif di taman sekolah misalnya. Manfaatkan lingkungan sekitar sekolah, termasuk hal-hal yang remeh-temeh, untuk mendukung penguasaan konsep siswa. Jangan hanya putus asa karena tidak memiliki ruang lab atau ruang komputer.
(3) Buatlah ekstra kurikuler yang 'produktif', yaitu yang bisa menjadikan peserta didik melejit potensinya dan memiliki kompetensi tertentu. Takut terjebak pada penjurusan? Kenapa tidak, justru sekolah yang memiliki spesialisasi tertentu akan dicari oleh konsumennya yang seide. Semakin fokus sekolah pada "value" tertentu, akan memudahkannya "keluar dari kerumunan."
(4) Tingkatkan "jam terbang" siswa sehingga semakin matang. Jangan ragu untuk mendelegasikan sepenuhnya kepada siswa.
Salah satu contoh aplikasinya adalah seperti yang telah dilaksanakan pada model Sekolah Alam. Di sana orientasinya adalah kompetensi siswa, sehingga segala aktivitas KBM yang ada diarahkan pada penguasaan konsep. Adapun metodologinya bisa 1001 cara. Di sinilah kreativitas dan keistiqomahan guru ditantang. Karena bagaimanapun kencengnya idealisme sang guru, mereka adalah produk lembaga tekstual. Yang kadang, walaupun senantiasa berusaha fokus pada konteks, sering keseleo di sana-sini.
Ane pernah mengusulkan ide pada sebuah SDIT di Pekalongan, yaitu menyelenggarakan ekstra kurikuler yang 'produktif'. Salah satunya adalah: ekskul EO. Ya, event organizer yang termasuk di dalamnya videoshooting, fotografi dan entertainment. Latar belakangnya, karena setiap tahun setidaknya ada 5 even yang pasti diselenggarakan oleh pihak sekolah: penerimaan siswa baru, masa orientasi siswa, peringatan hari-hari besar nasional dan keagamaan, kegiatan tengah semester, wisuda/pelepasan siswa. Nah, dengan dibekali skill mengelola even, maka para guru tidak perlu pusing membentuk kepanitiaan setiap hendak mengadakan acara. Untuk mengeksekusinya, serahkan saja semuanya pada siswa. Ini akan menjadikan mereka memiliki jiwa kemandirian yang luar biasa. Dan energi para guru bisa disimpan untuk hal-hal yang lebih besar lagi.
Sayangnya, pihak sekolah merasa telah kehabisan ploting waktu untuk ide ane tersebut. Sehingga usulan yang menurut mereka cukup bagus ini, ikut tertimbun dalam tumpukan proposal yang lain. Mengapa ini terjadi? Karena pihak sekolah belum memiliki "nyali" untuk keluar dari pakem. Khawatir siswa keponthal-ponthal, tidak bisa mengikuti pelatihannya. Masih gamang, jangan-jangan nanti "diapa-apakan" oleh dinas karena "mengeliminir" mapel tertentu. Takut dikucilkan dari komunitas sekolah swasta, dan sebagainya dan sebagainya.
Ane yakin, insya Allah, anak usia SD bisa menyerap ilmu apa pun yang diberikan. Asalkan dalam prosesnya betul-betul mengedepankan suasana belajar yang menyenangkan. Bukankah rentang usia SD masih dalam masa golden age? Dan tentang 'teror' oleh pihak lain, tak usahlah diacuhkan. Teruslah bekerja dengan profesional, insya Allah mereka akan melihat hasilnya. Setelah itu, ane yakin, dukungan akan terus mengalir.
Jika hal ini terwujud, maka pihak sekolah bisa menjual skill yang dimiliki siswanya, seperti halnya pada Sekolah Kejuruan yang bisa menghasilkan uang dengan mengerjakan proyek tertentu. Tentunya dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap siswa dan sekolah. Atau pun jika tidak, maka pihak sekolah telah melakukan penghematan yang cukup signifikan karena pengelolaan even-evennya tidak diorderkan ke pihak lain.
Lantas, apa yang kita tunggu?
31 Januari 2009
Hayoo... Siapa Yang Bermasalah?
Pagi itu jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Saat seharusnya istriku sudah harus tiba di TKIT Ulul Albab, tempat ngajarnya. Namun karena berangkatnya harus bareng Jundi (anak keempat kami yang masih kelas B), maka terpaksa menunggunya hingga selesai sarapan.
Sementara uminya ngomel-ngomel karena bisa dipastikan terlambat tiba di sekolah, Jundi alih-alih bersegera, ee... malah asik ngopeni piaraan barunya: ikan mungil (semungil yang punya).
Ia dengan penuh kasih memindahkan ikannya ke cangkir. Sejurus kemudian dengan perlahan tangan mungilnya memunguti bebatuan kecil dan 'rumah ikan' yang terbuat dari bekas serutan pensil miliknya. Memindahkan sementara keluar aquarium. Berikutnya membuang air aquarium yang sudah kotor, membersihkannya dan mengisinya kembali dengan air bersih. Lantas ia memindahkan rumah ikan, memunguti kembali bebatuan satu per satu dan menatanya dengan rapi ke dalam aquarium yang terbuat dari bekas toples susu.
Jarum panjang sudah menunjuk ke angka 9. Jundi sambil mengulum nasi sarapannya yang baru separuh habis, asik mengamati ikan kesayangannya. Tentu saja ini membuat uminya semakin uring-uringan. Dan antum bisa menebak, reaksi selanjutnya bukan?
Bro & Sis, itulah salah satu potret kehebohan pagi hari keluarga kami. Pernahkah antum (yang sudah berkeluarga) merasakan hal serupa? Ane yakin paling tidak Antum pernah menyaksikan peristiwa seperti itu.
Menurut ane, Jundi tidak bisa disalahkan. Karena memang seperti itulah dunianya, dunia anak-anak yang penuh dengan keasyikan. Terlambat sekolah? Itu bukan masalahnya bukan? Karena bagi anak, sekolah sama halnya dengan bermain. Ia tidak bisa diikat dengan sebuah peraturan yang mewajibkan harus begini dan begitu.
Jadi, siapa sesungguhnya yang bermasalah?
29 Januari 2009
Pendidikan Anak ala Indonesia vs Jepang
Bro & Sis,
Kemaren ane menegur Bu Lik. Itu tuh, pengasuh anak kelima kami, Irfan (2 th). Habisnya dia salah sih, dalam mendidik Irfan. Ceritanya siang itu seperti biasa, sepulang menjemput istri bekerja, kami mampir ke Bu Lik untuk mengambil Irfan. Nah, begitu melihat kami datang, ia pasti berlari menghambur ke pelukan uminya.
Sayangnya siang itu Irfan terlalu kenceng berlari hingga terjatuh. Mungkin saking kangennya kali ya? Reflek si Bu Lik tadi berlari menghampiri Irfan dan menggendongnya. Lantas untuk menghentikan tangisnya, ia pun memukul-mukul lantai sambil berujar, "Kodoke nakal ya, biar ibu pukul! He kodok, jangan nakal sama Irfan lagi. Rasakan ini!" dan... plak-plok-plak-plok!
Sepintas tindakan Bu Lik itu dibenarkan. Namun sebenarnya itu salah dalam kacamata pendidikan anak. Parahnya lagi, salah kaprah itu sudah turun-temurun tujuhpuluhtujuh generasi. Bisa dibayangkan, seperti apa karakter anak itu kelak?
Pertama, ia dididik untuk mencari kambing hitam (kasihan tuh si kambing, enakan disate ya?) atau kodok hitam atau sebangsanya yang item-item untuk pelampiasan. Jadi si anak diajari bahwa 'kamu tidak salah, yang salah tuh pihak lain', anak tidak diajari tanggung jawab.
Kedua, anak dididik untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Lihat gaya Bu Lik tadi memukul lantai (kalau ini, yang seneng tukang batu, bakal dapat order betulin lantai nih).
Ketiga, 'kasih sayang' yang diberikan ketika anak dalam masalah justru mengakibatkan 'rasa ketergantungan' yang akut, tidak mendidik anak untuk mandiri.
Ane jadi ingat cerita seorang kawan yang pernah hinggap di Jepang. Di sana, penanganan kasus seperti itu sungguh berbeda. Nih, penuturannya:
Suatu sore saat saya duduk ngopi di sebuah taman kota, terdengar tangisan seorang anak balita memecah keheningan. Sang ibu yang telah beberapa langkah di depan anak tersebut segera menghentikan langkahnya, menoleh dan tetap diam (Wah, tega amat nih! Eit, jangan su'uzhon dulu!). Si anak yang tergores lututnya dan sedikit berdarah itu semakin menjadi tangisnya. Namun hal itu tidak menggoyahkan ibunya yang tetap berdiri diam di tempatnya, tak sesenti pun mendekati si anak, apatah lagi menggendongnya. Boro-boro! Pun orang-orang yang ada di taman itu, sepertinya cuek saja. Sampai beberapa lama, akhirnya sang anak berdiri sendiri, tangisnya sudah agak mereda. Kemudian si ibu mengulurkan tangannya. Sang anak pun meraih tangan ibunya dan melanjutkan perjalanannya, sambil sesekali terisak.
Subhanallah! Pantasan karakter orang Jepang itu: pekerja ulet, mandiri, tahan banting dan bertanggung jawab. Sementara kita???

